Pages

Rabu, 19 November 2014

SINTESIS 1,3-bis-FENILMETILIDINUREA


Download + gambar : here
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK
SINTESIS 1,3-bis-FENILMETILIDINUREA


UMS-Surakarta.png



Disusun oleh:

Nama         : LAMTANA EKA KARTIKASARI
NIM            : K100130173
Kelompok  : F.1
Korektor    :


Paraf Pengumpulan Laporan



Laboratorium Kimia Organik
Bagian Kimia Farmasi Fakultas Farmasi
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2014



I.              TUJUAN
Mengenal reaksi adisi-eliminasi pada senyawa aldehida dan amina primer.

II.             CARA KERJA SKEMATIS
Di masukkan 5,1  mL benzaldehid kedalam erlenmeyer yang telah dilengkapi dengan pengaduk magnetik.

Di tambahkan 1,5 gram urea yang dilarutkan dalam 5 mL aquadest kedalam campuran no.1 sambil diaduk.
 

Di tambahkan 4-5 tetes HCl 2N atau sampai mencapai pH 3.


 
Campuran larutan diaduk selama 30 menit, suhu dijaga 150C sampai terbentuk endapan putih.

Campuran larutan diaduk kembali selama 30 menit pada suhu ruang.

Di saring endapan yang terjadi dengan menggunakan corong Buchner.


 
Dikeringkan endapan yang diperoleh dan ditimbang.

III.           BAHAN dan RANGKAIAN ALAT
a.     BAHAN
Benzaldehid, urea, HCl 2N, es, dan aquadest.
b.    ALAT
Erlenmeyer 250 mL, bekker glass 500 mL, magnetic stirer, plate mechanical stirer, termometer, dan corong Buchner.


c.     RANGKAIAN ALAT


 






























IV.      MEKANISME REAKSI




























V.       HASIL dan PERHITUNGAN RENDEMEN

Nama Bahan Kimia
Molaritas (M)
Berat (gram)
Volume (mL)
Benzaldehid
9,65
5,32
5,1
Urea
22,09
1,5
1,086
Aquadest
-
-
5
HCl 2N
2-3 tetes
-
-





·         Urea 1,5 gram
BM = 60,06 g/mol
BJ = 1,38 g/mL
Massa = 1,5 gram

BJ = massa/volume
Volume = Massa/BJ
            = 1,5 g/1,38 g/mL
Volume = 1,086 mL ≈ 0,001086 liter

n = massa/BM
   = 1,5g/ 60,06 g/mol
n = 0,024 mol

M = mol/vol.
    = 0,024 mol/0,001086 L
M = 22,09 M



·         Benzaldehid
BJ = 1,045 g/mL
BM = 108,14 g/mol
Volume = 5,1 mL

BJ = massa/volume

Massa = BJ x Volume
          =1,045 g//mL x 5,1 mL
Massa = 5,32 gram

n = massa/BM
   = 5,32 g/ 108,14 g/mol
n = 0,049 mol

M = mol/vol.
    = 0,049 mol/0,0051 liter
M = 9,6 M

                                                                 HCl
    2 Benzaldehid   +      Urea                      H2O   +  1,3-bis-fenilmetilidinurea

M            0,049 mol          0,024 mol                  -                         -
R              0,048 mol          0,024 mol           0,024 mol         0,024 mol
S              0,001 mol                                 0,024 mol         0,024 mol


Perhitungan teoritis Iodoform
n = 0,024 mol
BM = 236 g/mol

Massa = n x BM
           = 0,024 mol x 236 g/mol
           = 5,664 gram

·      Berat Imina basah setelah dimurnikan
       Berat basah  + kertas saring                   =   3360 mg
       Berat kertas saring                                  =     950 mg
       Berat Imina basah pemurnian               =   2410 mg

·      Berat kering pemurnian
       Berat kering + kertas perkamen             = 2,3719 gram
       Berat kertas saring                                  =     0,95 gram
       Berat kering pemurnian                         = 1,4219 gram

       Berat basah setelah pemurnian = 2,41 gram
       Berat kering hasil pemurnian     = 1,4219 gram


Berat rendemen = berat kering hasil percobaan
                                            Berat teoritis
                           =   1,4219 gram   x 100 %
                                 5,664 gram

      Berat rendemen  = 25,1  %


VI.      PEMBAHASAN
            Dalam praktikum untuk sintesis 1,3-bis-FENILMETILIDINUREA atau suatu imina ini memberikan penjelasan untuk mengenal reaksi adisi-eliminasi pada senyawa aldehid (R-COOH) dan amina primer (R-NH2). Senyawa imina yaitu senyawa ynag punya gugus C=N. Amina yakni senyawa turunan amonia (NH3), dengan atom nitrogen yang mengikat 1 atau lebih gugus aril atau alkil. Amina ada empat macam, yakni amina primer, sekunder, tersier dan kwarterner. Amina primer ialah dimana atom nitrogen mengikat 2 atom hidrogen dan 1 gugus alkil/aril. Elektron bebas yang dimiliki atom nitrogen menjadikan suatu amina tersebut bersifat basa atau nukloefil. Nukleofil ialah bersifat menyerang atom yang bermuatan positif. Senyawa aldehid yang dipakai dalam sintesis ini ialah benzaldehid dan amina primernya yaitu urea.
            Amina-amina primer yang mengalami reaksi dengan aldehid maupun keton, lalu dehidrasi (melepaskan molekul air) maka akan didapatkan imina. Dalam reaksi ini digunakan katalis asam, yaitu HCl. Alasan digunakannya katalis asam yaitu karena HCl berperan penting yang merupakan penyumbang proton dalam proses protonasi nantinya. Selain itu, reaksi ini dapat berlangsung optimal dalam suasana asam, sehingga digunakan lah katalis asam. HCl ini memiliki peran untuk mengoptimalkan reaksi adisi-eliminasi dalam pembentukan imina, supaya didapatkan imina yang murni.
            Dari reaksi antara benzaldehid dan urea dalam pembentukan imina ini memiliki tahap-tahap mekanisme reaksi. Reaksi adisi atau penjenuhan. Dan reaksi eliminasi adalah lawan dari adisi yitu dari senyawa yang punya ikatan tunggal menjadi ikatan rangkap. Pada reaksi ini ada 2 tahap, tahap pertama yakni proses adisi amina nukleofilik yang menyerang karbon karbonil yang punya muatan parsial positif (δ+) dan adanya pelepasan proton ke atom oksigen dari atom nitrogen. Biasanya nukleofilik yang menyerang elektrofilik. Tahap kedua pada reaksi ini ialah eliminasi pada gugus –OH terprotonkan misalnya saja air. Tahap kedua ini sangat dipengaruhi katalis atau konsentrasi asam. Jika suasana asam maka tahap 1 berlangsung lambat tetapi tahap 2 berlangsung cepat.
            Reaksi ini berlangsung optimum di pH 3-4. Jika terlalu asam (pH<3) atau pengurangan keasaman (pH>4) maka dapat mempengaruhi laju reaksi pembentukan imina tersebut. Dan dalam melakukan sintesis, suhu harus dijaga karena suhu mempengaruhi proses sintesis yang dilakukan. Dari mekanisme cara kerjanya, sebelum bahan dicampurkan maka erlenmeyer harus dikonsdisikan pada suhu 15OC dalam bekker glass yang berisi air es dan aquadest. Setelah erlenmeyer yang dikondisikan tersebut telah mencapai suhu 15oC maka dimasukkan benzaldehid kedalam erlenmeyer tadi, kemudian dimasukkan urea yang telah dilarutkan  pada aquadest smbil distirer diatas plate mechanical stirer tanpa pemanasan.
            Penambahan HCl harus tetes demi tetes, pertama ditambahkan HCl 2-3 tetes dalam campuran larutan tadi kemudian dicek pH nya dengan pH stick untuk mengetahui pH larutan setelah penambahan HCL tersebut. pH yang diharapkan adalah 3-4, sebagai pH optimum dimana reaksi ini bisa berlangsung.lalu campuran tersebut diaduk dengan stirer diatas plate mechanical stirer agar dapat menjadi larutan homogen. Pengadukan dilakukan selama 30 menit dengan stirer tanpa dilakukan pemanasan , suhunya dijaga 150C  sampai terjadi endapan putih. Awalnya muncul gelembung kemudian air berminyak setelah dingin maka akan membeku sehingga menghasilkan endapan. Jika suhu melebihi 15oC maka dalam bekkerglass ditambahkan es dan jikasuhunya terlalu rendah ditambahkan aquadest.
            Setelah 30 menit pengadukan lalu didiamkan pada suhu kamar diatas mechanical stirer sambil distirer selama 30 menit. Tujuan dari pengadukan /stirer kedua ini ialah untuk dehidrasi atau menarik air jadi antara pasta yang dihasilkan dapat terpisah dengan air. Jika sudah maksimal maka proses stirer bisa dihentikan. Karena imina jika tercampur air terlalu lama maka dapat terhidrolisis kembali.
            Waktu stirer yang kedua (pada suhu kamar) jika terlalu lama maka imina (endapan putih) yang sudah dihasilkan akan terhidrolisis kembali menjadi berair sehingga endapan yang diperoleh berkurang, seperti yang kelompok kami. Ketika 15 menit sebenarnya sudah banyak endapan putih yang didapatkan tapi karena terlalu lama maka banyak yang terhidrolisis kembali. Yang dapat mempengaruhi hasil rendemen nantinya. Dari percobaan sintesis 1,3-bis-fenilmetilidinurea ini berat basah setelah pemurnian ini adalah 2,41 gram. Dalam penyaringan gel atau pasta yang diperoleh tidak boleh dicuci dengan aquadest, karena dapat menghidrolisis imina yang dihasilkan. Disaring imina dengan corong buchner sampai tidak ada lagi air yang menetes. Sehingga gel/pasta yang diperoleh benar-benar kering.
            Untuk membantu proses pengeringan maka dimasukkan kedalam oven selama + 35 menit supaya membantu pengeringan gel/pasta imina. Dalam menyaring imina harus menngunakan glove dan kacamata karena jika imina terkena kulit maka akan perih dan dapat menyebabkan iritasi. Dan perih pada mata jika tidak menggunakan google. Sintesis imina ini untuk menguji keberadaan aldehid atau tidak. Imina yang dihasilkan dikeringkan selama 5 hari supaya gel yang dihasilkan kering. Kemudian ditimbang berat keringnya, dan dihasilkan 1,4219 gram. Sehingga didapatkan rendemen sebesar 25,1%. Untuk titik lebur percobaan yang diperoleh adalah 119-130oC. Untuk titik lebur teoritis imina kami kurang mengetahui. Tetapi dari hasil rendemen yang didapatkan, jelaslah imina yang kita hasilkan tidak murni karena kurang dari 75%. Dan rentang titik leburnya lebih dari 10, semakin membuktikan bahwa imina yang didapatkan tidak murni. Hal ini dapat dipengaruhi beberapa faktor, misalnya saja saat melakukan cara kerja ada kesalahan, waktu didiamkan pada suhu kamar terlalu lama sehingga terhidrolisis kembali. Organoleptis dari imina adalah berwarna putih, waktu basah berbentuk gel tapi ketika sudah dikeringkan maka akan menggumpal-gumpal. Pengeringan ini dipengaruhi oleh silika yakni absorben air. Jika berwarna ungu pekat maka penyerapannya maksimal.

VII.     KESIMPULAN
              Dari percobaan sintesis imina ini rendemen yang dihasilkan 25,1% dan titik leburnya 119-130oC sehingga imina nya tidak murni, organoleptisnya berwarna putih berbentuk gel.

VIII.   DAFTAR PUSTAKA
Fessenden & Fessenden.1986.OrganicChemistryThirdEdition. Wadsworth           Inc       : California
Hart, Harold.1987. Kimia Organik Suatu Kuliah Singkat. Erlangga : Jakarta


Senin, 17 November 2014

SINTESIS IODOFORM

download filenya + gambar : here

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK
SINTESIS IODOFORM


UMS-Surakarta.png



Disusun oleh:

Nama         : LAMTANA EKA KARTIKASARI
NIM            : K100130173
Kelompok  : F.1
Korektor    :


Paraf Pengumpulan Laporan



Laboratorium Kimia Organik
Bagian Kimia Farmasi Fakultas Farmasi
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2014



I.              TUJUAN
Mengenal reaksi halogenasi alfa (α) pada senyawa karbonil.

II.             CARA KERJA SKEMATIS
A.    Pembuatan Iodoform dari aseton, KI, dan kapur klor. ( Tidak dilakukan )
Di masukkan 12 g KI, 200 mL aquadest, dan 4 mL aseton ke dalam erlenmeyer.

Di tambahkan bertetes-tetes larutan 5% kapur klor sambil digojog hingga tidak terbentuk endapan lagi.
 

Di diamkan campuran selama 10 menit, kemudian disaring menggunakan corong buchner.

Di cuci kristal dengan aquadest hingga tidak bereaksi alkalis lagi.


PEMURNIAN
 
 


Di masukkan kristal kedalam labu alas bulat yang dilengkapi allihn condensor, kemudian ditambahkan alkohol hingga tepat larut ( sambil dipanaskan di penangas air ).


 
Disaring larutan dalam keadaan panas, didinginkan filtratnya dalam wadah berisi es, kemudian saring endapan yang terjadi dengan corong Buchner.

Dikeringkan kristal yang diperoleh, ditimbang, dan ditentukan titik leburnya.



B.    Pembuatan Iodoform dari aseto, I2 , dan NaOH ( Dilakukan )
Dalam erlenmeyer, dimasukkan 10 g Iodium dan ditambahkan 10 g aseton.

Di tambahkan sedikit-sedikit dari pipet larutan NaOH 8N (resenter paratus) dan bila terjadi panas, didinginkan dibawah kran atau bungkus dengan lap basah.
 

Setelah terjadi kristal kuning, segera diencerkan dengan aquadest sebanyak kurang lebih 300 mL.

Segera disaring dengan corong buchner.
 

Di cuci kristal dengan aquadest hingga filtrat tidak bereaksi alkalis lagi, baru kemudian rekristalisasi dengan alkohol (seperti pada cara A).

Dikeringkan kristal yang diperoleh, ditimbang dan ditentukan titik leburnya.

III.           BAHAN dan RANGKAIAN ALAT
a.     BAHAN
Kalium Iodida, aseton, aquadest, larutan kapur klor 5%, es, etanol, Iodium, dan larutan NaOH 8N.
b.    ALAT
Erlenmeyer, labu alas bulat (LAB), pengaduk magnetic, plate mechanical stirer, corong Buchner, dan allihn condensor.

c.     RANGKAIAN ALAT


 













IV.      MEKANISME REAKSI
V.       HASIL dan PERHITUNGAN RENDEMEN










Nama Bahan Kimia
Molaritas (M)
Berat (gram)
Volume (mL)
Aseton
13,6
5
6,32
NaOH
8
6,4
20
Iodium
18,81
5
1,01
Aquadest
-
-
150
Etanol
17,66
24,38
30

·         Aseton 5 gram
BM = 58 g/mol
BJ = 0,790 sampai 0,792 g/mL
Massa = 5 gram

BJ = massa/volume
Volume = Massa/BJ
            = 5 g/0,791 g/mL
Volume = 6,32 mL ≈ 0,00632 liter

n = massa/BM
   = 5g/ 58 g/mol
n = 0,086 mol

M = mol/vol.
    = 0,086 mol/0,00632 L
M = 13,6 M

·         Text Box: a = ekuivalen NaOHNaOH 8N
BJ = 1,35 g/mL
BM = 40 g/mol
Volume = 20 mL

N = a x M
8 = 1 x M
Molaritas = 8 M  
     
                              M =

                                        
                                         8  =


                                         Massa = 6,4 gram

n = massa/BM
   = 6,4 g/ 40 g/mol
n = 0,16 mol

·         Iodium ( I2 ) 5 gram
BJ = 4,93 g/mL
BM = 253,8 g/mol
Massa = 5 gram

BJ = massa/volume
Volume = Massa/BJ
            = 5 g/ 4,93 g/mL
Volume = 1,01 mL ≈ 0,00101 L

n = massa/BM
   = 5 g/ 4,93 g/mol
n = 0,0197 mol

M = mol/vol.
    = 0,0197 mol/ 0,00101
M = 18,81 M


·         Etanol 30 mL
BJ = 0,8119 – 0,8139 g/mL
BM = 46 g/mol
Volume = 30 mL

BJ = massa/volume

Massa = BJ x Volume
          = 0,8129 g//mL x 30 mL
Massa = 24,38 gram

n = massa/BM
   = 24,38 g/ 46 g/mol
n = 0,53 mol

M = mol/vol.
    = 0,53 mol/0,03 liter
M = 17,66 M

                                                                       NaOH
     Aseton             +      3/2  Iodium                 Iodoform       +     Ion Enolat

M            0,086 mol           0,0197 mol                         -                            -
R              0,013 mol          0,0197 mol                     0,013 mol                 0,013 mol
S              0,073 mol                                              0,013 mol                 0,013 mol


Perhitungan teoritis Iodoform
n = 0,013 mol
BM = 393,7 g/mol

Massa = n x BM
           = 0,013 mol x 393,7 g/mol
           = 5,1181 gram

·                Berat basah Iodoform
Berat kertas saring                                   =     890 mg
Berat basah  Iod. + kertas saring =   3620 mg
Berat Iodoform basah                  =   2730 mg

·      Berat Iodoform basah setelah dimurnikan
       Berat basah Iod. + kertas saring             =   2720 mg
       Berat kertas saring                                  =     890 mg
       Berat Iodoform basah murni                  =    1830 mg

·      Berat kering pemurnian
       Berat kering + kertas perkamen             = 2,1496 gram
       Berat kertas saring                                  =     0,92 gram
       Berat kering pemurnian                         = 1,2296 gram


       Berat basah Iodoform                 = 2,73 gram
       Berat basah setelah pemurnian = 2,72 gram
       Berat kering hasil pemurnian     = 1,2296 gram


Berat rendemen = berat kering hasil percobaan
                                            Berat teoritis
                           =   1,2296 gram   x 100 %
                                 5,1181 gram

      Berat rendemen  = 24,02 %


VI.      PEMBAHASAN
                        Dalam praktikum sintesis iodoform ini memiliki tujuan agar kita dapat mengenali reaksi halogenasi alfa (α) pada senyawa karbonil. Senyawa karbonil adalah senyawa yang mempunyai gugus karbonil (-CO). Senyawa haloform (CHX3) ialah suatu senyawa dimana atom Karbon (-C) mengikat 1 atom hidrogen dan 3 atom halogen. Atom-atom halogen adalah atom-atom golongan VII A, yang digunakan biasanya Klorida, Bromida, Iodium. Jika halogen yang digunakan dalam substitusi hidrogen alfa adala klor maka akan didapatkan kloroform (CHCl3), tapi kalau bromida akan didapatkan bromoform (CHBr3). Dalam sintesis iodoform ini reaksi yang digunakan ialah halogenasi alfa pada senyawa karbonil. Halogenasi alfa ialah suatu reaksi dimana senyawa halogen akan menggantikan atom-atom hidrogen yang terikat pada karbon alfa. Dan karbon alfa ialah karbon yang terikat langsung dengan atom karbon dari gugus karbonil. Sedangkan atom hidrogen yang terikat pada karbon alfa dinamakan hidrogen alfa.
            Dalam reaksinya aseton mengalami deprotonasi (OH-) dari katalis basa, sehingga didapatkan karbanion yang memiliki sifat nukleofilik ( Nu-) atau bermuatan negatif. Kemudian addisi halogen (I2) menghasilkan α-iodo karbonil. Sampai dihasilkan ion enolat dan iodoform. Enolat ialah sebuah nukleofil yang baik yang bisa mensubstitusi halida dari alkil halida, jadi dapat menghasilkan senyawa karbonil yang teralkilasi. Disini iodium sebagai atom halogennya, sedangkan propanon atau nama trivialnya aseton ialah suatu keton. Dan senyawa keton ialah senyawa yang memiliki gugus karbonil. Dalam hal ini aseton ialah senyawa yang berperan sebagai penyedia hidrogen alfa (α). Reaksi halogenasi alfa dapat dikatalis dengan suatu asam atau dalam suasana basa. Reaksi yang dikatalis oleh suatu asam berlangsung melalui enol.
            Dalam prkatikum ini sintesis iodoform yang dibuat dengan mereaksikan iodium dan aseton yakni dengan cara langsung. Sedangkan cara tidak langsung adalah pembuatan iodoform dari KI, aseton, akuadest, dan larutan kapur klor. Iodium memiliki sifat mudah teroksidasi, sehingga dalam penimbangannya harus dilakukan dalam botol timbang, supaya tidak teroksidasi oleh udara yang dapat mengganggu pernafasan. Iodium bila dalam keadaan panasa maka akan terurai. 
            Dalam sintesis ini kita gunakan reaksi dalam suasana basa, maka dengan penambahan NaOH. NaOH yang kita pakai harus resenter paratus atau dibuat baru, alasannya agar reaksi yang dikatalis dengan basa ini dapat berjalan secara optimal. Aseton dimasukkan terlebih dahulu kedalam erlenmeyer, lalu iodium dimasukkan. Hal ini dilakukan karena BJ Aseton lebih kecil dari BJ iodium, agar terjadi larutan yang tercampur secara homogen. Kemudian digojog sampai iodiumnya larut dalam aseton tersebut lalu ditutup dengan alumunium foil supaya iodium tidak menguap dalam udara bebas. Kemudian ditambahkan katalis basanya. Dalam penambahan NaOH ini harus dilakukan tetes demi tetes melallui dinding erlenmeyer, sambil digojog supaya bercampur homogen. Dan supaya kita mengetahui bahwa reaksinya tidak lewat jenuh yang menyebabkan tidak berhasilnya sisntesis iodoform ini.
            Penambahan NaOH dlakukan secepat mungkin (NaOH masih dalam keadaan hangat) setelah dibuat, supaya reaksinya optimal. NaOH yang ditambahkan sampai larutan tidak menimbulkan warna kuning pada dinding erlenmeyer (larutan campuran iodium dan aseton). Bila setelah ditambahkan NaOH sudah tidak lagi menmbulkan warna kuning, maka larutan tersebut sudah jenuh dan terlihat endapan kuning dibagian bawah. Saat penambahan NaOH ke dalam erlenmeyer, maka erlenmeyer harus dibungkus dengan lap basah, supaya suhunya dapat terjaga karena penambahan NaOH.
            Setelah didapatkan larutan yang jenuh, lalu ditambahkan sejumlah aquadest kedalam erlenmeyer supaya kita dapat ketahui endapan kuning yang kita dapatkan. Kemudian disaring dengan corong buchner, sambil kristal tersebut dicuci dengan aquadest sampai tidak bersifat alkalis lagi, untuk mengetahuinya kita gunakan kertas lakmus. Bila dalam kertas lakmus merah tidak berubah jadi biru, maka sudah tidak alkalis lagi. Atau jika perubahan warna pada lakmus merah jadi biru terjadi begitu lambat, maka dapat dikatakan sudah netral. Kristal tersebut dapat bersifat basa atau alkalis karena adanya katalis NaOH yang digunakan sebagai katalis tadi. Pencucian dengan aquadest karena, aquadest sifatnya itu agak ke asam atau basa lemah sehingga dapat menetralkan kristal yang mengandung NaOH tersebut.
            Tahap selanjutnya adalah rekristalisasi. Dalam pelarutan iodoform, kita tidak menggunakan labu alas bulat yang dilengkapi allihn condensor, tapi menggunakan plate mechanical stirer. Jika menggunakan rangkaian allihn condensor dan LAB, suhunya akan lebih terjaga dalam pemurnian dan pelarutannya. Kristal telah didapatkan tadi dilarutkan dalam alkohol tepat larut sekitar 30 mL. Digunakan alkohol karena kelarutan iodofom adalah dalam etanol. Serbuk iodoform yang awalnya berwarna kekuningan setelah dilarutkan dalam etanol dan dipanaskan dalam plate mechanical stirer, maka larutannya akan berubah  warna jadi kecoklatan.pemnasan ini dilakukan karena dapat membantu dalam pelarutannya. Bila semua sudah terlarut segera disaring dalam kondisi yang masih panas, supaya zat pengotornya terlarut. Larutan yang telah disaring segera dimasukkan dalam wadah yang telah diisi air es, agar cepat terbentuk endapan kristal. Bila sudah banyak endapan yang terbentuk maka segera saring dengan corong buchner dan cuci sisa endapan yang masih tersisa dalam bekkerglass dengan aquadest. Ditunggu sampai air tidak menetes lagi, yang menandakan bahwa kristal iodoform tersebut sudah tidak mengandung kadar aquadest yang cukup banyak, yang dapat memperbesar berat basahnya.
            Dari praktikum sintesis iodoform ini berat basah setelah pemurnian adalah 1,83 gram, dan setelah dikeringkan maka kita dapatkan berat kristal kering setelah dimurnikan adalah 1,2296 gram. Sehingga didapatkan rendemen dari sintesis iodoform ini sebesar 24,02%. Dari hasil rendemen ini, hasilnya kurang dari 75 %, jadi dapat dikatakan iodoform yang dihasilkan kurang murni, mungkin masih ada zat pengotornya. Setelah didapatkan kristal yang telah dikeringkan tadi, kita dapatkan melting point (m.p) atau titik lebur iodoformnya 115-1220C, rentangnya lebih dari 5, jadi ini menguatkan bahwa iodoform yang kami hasilkan tidak murni. Titik lebur iodoform ini dihitung ketika suhu dimana iodoform mulai melebur sebagian sampai melebur seluruhnya. Secara teoritis titik lebur iodoform adalah 118-1210C. Organoleptis dari iodoform ini adalah kristal kuning, memiliki bau yang khas, dan kristalnya halus.

VII.     KESIMPULAN
Dari praktikum sintesis iodoform ni dapat disimpulkan bahwa terjadi reaksi halogenasi alfa (α) dengan katalis suatu basa (NaOH). Halogenasi alfa pada aseton, karena memiliki gugus karbonil. Aseton tadii addisi dengan halogen, yaitu iodium. Dari reaksi tersebut maka dihasilkan ion enolat dan iodoform. Di hasilkan ion enolat karena pengaruh katalis basa. Rndemen yang diperoleh 24,02 % dan titik lebur iodoform hasil percobaan sebesar 115-1220C.

VIII.   DAFTAR PUSTAKA
Fessenden & Fessenden.1986.OrganicChemistryThirdEdition. Wadsworth           Inc       : California
Hart, Harold.1987. Kimia Organik Suatu Kuliah Singkat. Erlangga : Jakarta