Download Filenya : here
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK
SINTESIS
DIBENZILIDINASETON

Disusun oleh:
Nama : LAMTANA EKA KARTIKASARI
NIM : K100130173
Kelompok : F.1
Korektor : Iwan Setya N
Paraf Pengumpulan Laporan
Laboratorium Kimia Organik
Bagian Kimia Farmasi Fakultas Farmasi
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2014
I.
TUJUAN
Mempelajari reaksi kondensasi
aldehid aromatik dengan keton ( reaksi kondensasi Claisen-Schmidt ).
II.
CARA
KERJA SKEMATIS
Di
tambahkan larutan 2 gram NaOH dalam 9,5 mL aquadest ke dalam campuran
diatas sambil diaduk selama 5 menit.
Di
cuci residu atau kristal dengan aquadest kemudian cuci dengan etanol dingin.
|
Di
masukkan kristal kedalam bekker glass kemudian ditambahkan etanol 20 mL hingga
tepat larut (sambil dipanaskan di atas penangas air).
Dikeringkan
kristal yang diperoleh, ditimbang, dan ditentukan titik leburnya.
III.
BAHAN
dan RANGKAIAN ALAT
a.
BAHAN
Benzaldehid,
aseton, etanol, NaOH, dan aquadest.
b.
ALAT
Erlenmeyer
250 mL, pengaduk magnetic, plate mechanical stirer, termometer, corong Buchner,
dan gelas ukur.
c.
Rangkaian
Alat



IV.
MEKANISME
REAKSI
MEKANISME
REAKSI
VI.
HASIL
dan PERHITUNGAN RENDEMEN
![]() |


·
Benzaldehid
5,3 gram
BM = 106 g/mol
BJ = 1,043 sampai 1,045
g/mL
Massa = 5,3 gram
BJ = massa/volume
Volume = Massa/BJ
= 5,3 g/1,405 g/mL
Volume = 5,07 mL ≈ 0,005 liter
n =
massa/BM
= 5,3 g/ 106 g/mol
n = 0,05 mol
M =
mol/vol.
= 0,05 mol/0,00507 L
M = 9,67 M
·
Aseton
1,85 mL
BJ = 0,790 sampai 0,792
g/mL
BM = 58 g/mol
Volume = 1,85 mL
BJ = massa/volume
Massa = BJ . Volume
= 0,791 g//mL . 1,85 mL
Massa = 1,46 gram
n =
massa/BM
= 1,46 g/ 58 g/mol
n = 0,025 mol
M =
mol/vol.
= 0,025 mol/0,00185 liter
M = 13,5 M
·
Etanol
37,5 mL
BJ = 0,812 g/mL
BM = 46 g/mol
Volume = 37,5 mL
BJ = massa/volume
Massa = BJ . Volume
= 0,812 g//mL . 37,5 mL
Massa = 30,45 gram
n =
massa/BM
= 30,45 g/ 46 g/mol
n = 0,66 mol
M =
mol/vol.
= 0,66 mol/0,0375 liter
M = 17,6 M
·
NaOH
2,0 gram
BJ = 1,35 g/mL
BM = 40 g/mol
Volume = 30 mL
BJ = massa/volume
Volume = Massa/BJ
= 2,0 g/1,35 g/mL
Volume = 1,48 mL ≈ 0,00148 L
n =
massa/BM
= 2,0 g/ 40 g/mol
n = 0,05 mol
M =
mol/vol.
= 0,05 mol/ 0,00148
M = 33,78 M
NaOH
M 0,05
mol 0,025 mol -
-
R 0,05 mol 0,025 mol 0,025 mol 0,05 mol
S -
– 0,025 mol 0,05 mol
Perhitungan
teoritis Dibenzilidinaseton (DBA)
n = 0,025 mol
BM = 234,104 g/mol
Massa = n x BM
= 0,025 mol x 234,104 g/mol
= 5,8526 gram
·
Berat
basah DBA
Berat kertas saring = 1026,7 mg
Berat basah DBA + kertas saring = 8013,5 mg
·
Berat
1 gram untuk dimurnikan
Berat
DBA basah + kertas perkamen = 1268,9
mg
Berat
kertas perkamen =
266,9 mg
·
Berat
DBA basah setelah dimurnikan
Berat
basah DBA + kertas saring =
2723,7 mg
Berat
kertas saring =
1026,7 mg
·
Berat
kering pemurnian
Berat
kering + kertas perkamen =
1,4744 gram
Berat
kertas saring =
1,0267 gram
Berat
basah DBA = 4,7511
gram
Berat
DBA untuk pemurnian = 1 gram
Berat
basah setelah pemurnian = 1,697 gram
Berat
kering hasil pemurnian = 0,4477 gram
Berat hasil percobaan =
4,7511
g = 1
X 1,697 g
X =
7,977 gram
Berat rendemen = x . berat
kering hasil percobaan
Berat teoritis
=
7,977 gram . 0,4477 gram x 100 %
5,8526 gram
Berat rendemen =
61,02 %
VII. PEMBAHASAN
Dalam
praktikum sintesis dibenzilidinaseton (DBA) ini mempunyai tujuan agar kita
mengetahui mekanisme reaksi kondensasi aldehid (R-COOH) aromatik (siklik)
dengan keton (RCOO-R’) yang termasuk reaksi kondensasi Claisen-Schmidt. Reaksi
kondensasi itu adalah reaksi yang muncul disebabkan penggabungan dua molekul
atau lebih menjadi satu molekul yang besar, tetapi tidak ada suatu molekkul
kecilpun yang hilang (seperti halnya air (H2O)). Kondensasi aldol
juga bisa dinamakan reaksi addisi (pemutusan ikatan rangkap menjadi ikatan
tunggal atau reaksi penjenuhan). Jika aldehid tidak punya hidrogen alfa, maka
tidak bisa menghasilkan ion enolat. Maka dari itu disini kami menggunakan benzaldehid
(aldehid aromatik) yang bereaksi dengan senyawa yang punya hidrogen alfa yaitu
aseton atau propanon (keton). Hal semacam ini (aldehid tidak punya hidrogen
alfa dicampurkan dengan suatu keton yang punya hidrogen alfa) disebut
kondensasi aldol silang.
Saat
praktikum kondensasi aldol katalis yang akan digunakan adalah NaOH (suasana
basa). Dalam reaksi kondensasi, kita dapat menggunakan katalis asam maupun
basa. Jika menggunakan katalis asam, maka akan di dapatkan ion enol dari reaksi
ini. Tetapi jika kita menggunakan katalis basa, maka dari reaksi tersebut kita
akan memperoleh ion enolat. Penambahan katalis disini memiliki peranan untuk
membantu supaya reaksi kondensasi ini berjalan cepat (mempercepat reaksi tetapi
tidak ikut serta bereaksi sehingga tidak mengubah hasil akhir dari reaksinya).
Pembentukan
dibenzilidinaseton ini, OH- (dari NaOH) menyerang aseton maka
dihasilkan enolat, dan enolat ini mengalami resonansi. Resonansi merupakan
perpindahan elektron dari suatu atom yang tidak diikuti dengan perpindahan
atomnya. Setelah mengalami resonansi, enolat bereaksi dengan benzaldehid,
kemudian mengalami eliminasi H2O, resonansi enolat 2, protonasi dan
pelepasan H2O lagi. Sehingga dari reaksi tersebut dihasilkanlah
dibenzilidinaseton (DBA) dan air.
Dalam
praktikum sintesis dibenzilidinaseton ini ada 2 tahap atau mekanisme kerja,
yaitu sintesis dan pemurnian. Tahap sintesis ini adalah pencampuran
benzaldehid, aseton dan etanol dalam erlenmeyer yang diletakkan dalam gelas
bekker yang berisi air es kemudian diletakkan diatas plate mechanical stirer
untuk pemanasan dan pengadukan. Fungsi dari air es adalah untuk menstabilkan
suhunya agar tetap 20-22oC. Dalam erlenmeyer tersebut dimasukkan
pengaduk magnetik (stirer) untuk membantu proses pengadukan atau pencampuran
agar terjadi homogenitas. Dalam memasukkan bahan-bahan harus dimulai dari yang
BJ nya kecil dulu, lalu baru yang BJ besar (aseton –> etanol –>
benzaldehid), agar pencampuran ini dapat homogen.
Ketika
suhu mulai tidak stabil, maka ditambahkan larutan NaOH secara tetes demi tetes,
penambahannya harus seperti itu agar reaksinya berjalan secara optimal. Jika
suhunya kurang dari 20oC maka harus segera ditambahkan larutan NaOH,
agar suhunya stabil lagi. Larutan NaOH untuk menaikkan suhunya. Sedangkan jika suhunya
melebihi 22oC, maka harus ditambahkan air es / es agar suhunya turun
dan jadi stabil lagi. Jadi suhunya harus dijaga 20-22oC, karena jika
lebih dari 22oC tidak akan membentuk benzaldehid dan tidak
berlangsung reaksi kondensasinya. Tetapi akan terjadi reaksi Canizaro.
Akan
didapatkan campuran yang homogen, kemudian didiamkan selama 10 menit dulu pada
suhu kamar sebelum disaring dengan corong buchner, agar terjadi endapan dari
larutan tersebut. Awalnya larutannya berwarna orange kekuningan menjadi keruh,
lalu menjadi kabutdan baru terjadi endapan, lalu disaring dan akan diperoleh
serbuk agak kristal berwarna kuning. Didalam erlenmeyer masih ada sisa endapan
yang belum tersaring, maka dicuci dengan aquadest, lalu disaring. Setelah semua
tersaring, zat yang ada dalam corong buchner dicuci dengan etanol dingin, untuk
menarik zat pengotornya, melarutkan dan agar optimalisasi dari zat pengotornya.
Tahap
yang selanjutnya adalah pemurnian, kristal yang telah kita dapatkan, diambil 1
gram untuk dimurnikan. Untuk pproses pemurnian ini dibenzilidinaseton (DBA)
tersebut dilarutkan dalam 20 mL etanol. Bukan dalam larutan etanol-air, karena
kelarutan DBA adalah pada pelarut etanol. Dalam menentukan pelarut untukk
dibenzilidinaseton yaitu tidak terlalu mudah atau susah larut. Selanjutnya
dipanaskan pada plate mechanical stirer dan diberi pengaduk (stirer) untuk
membantu pengadukan agar terlarut DBA nya. Pemanasan ini dimaksudkan agar
membantu pelarutan dan untuk penjenuhan, sehingga proses kristalisasinya akan
sempurna.
Proses
pemurnian selesai, maka harus cepat disaring dalam keadaan masih panas, karena
dalm kondisi panas zat pengotornya terlarut maka tidak akan menempel dalam
kristal-kristal itu. Wadah yang digunakan sebagai tempat hasil filtratnya
diletakkan dalam wadah berisi air es. Agar kristal terbentuk dengan cepat,
kemudian disaring dalam corong buchner. Untuk mengoptimalkan pembentukan
kristal maka ditmabah aquadest untuk menetralkan NaOH. Pemilihan larutan untuk
penetralan adalah aquadest, karena pH-nya 7,4 (basa lemah), sedangkan NaOH
sendiri adalah basa kuat jadi harus dinetralkan dengan basa lemah. Untuk
mengetahui jika dibenzilidinaseton yang dihasilkan sudah netral maka ditest
dengan kertas lakmus merah, jika perubahan warna merah menjadi biru secara lambat
maka kebasaannya sudah berkurang. Kita juga bisa menggunakan kertas lakmus
biru, sampai tidak terjadi perubahan warna pada lakmus biru tersebut.
Dari praktikum ini kita mendapatkan kristal
dibenzilidinaseton (DBA), kristal berwarna kuning berkelip-kelip, memiliki bau
khas, dan jika kita merabanya maka terasa halus/lembut. Berat basah
dibenzilidinaseton yang kita dapatkan adalah 4,7511 gram. Setelah didapatkan
berat basah tersebut diambil 1 gram untuk dimurnikan. Dari DBA basah yang
dimurnikan tadi didapatkan berat basah murni sebanyak 1,679 gram. Setelah
dimurnikan maka dibenzilidinaseton tadi dikeringkan selama 3 hari untuk proses
rekristalisasi. Bila sudah 3 hari maka kita timbang berat keringnya dan kita
dapatkan berat dibenzilidinaseton kering yang telah dimurnikan sebanyak 0,4477
gram. Dari data berat dibenzilidinaseton diatas dapat kita hitung rendemennya.
Rendemen yang kita dapatkan adalah sebesar 61,02 %. Dan melting point (m.p) /
titik leburnya sebesar 112-118oC. Dilihat dari rendemen dan titik
lebur yang didapatkan, maka dibenzilidinaseton (DBA) yang didapatkan kurang
murni. Hal ini disebabkan dlam pencampuran kurang homogen, saat penyaringan
belum kering (masih bash). Karena titik leburnya tidak masuk range titik lebur
teoritis DBA yaitu 109-1110C. Jika rentang titik lebur kurang dari 5
dan rendemen lebih dari 75 % , maka dapat dikatakan hasilnya tersebut murni.
VIII. KESIMPULAN
Dari
praktikum yang kami lakukan , dapat disimpulkan bahwa suatunreaksi kondensasi
akan berlangsung pada suhu yang stabil 20-220C. Rekasi kondensasi
yang digunakan adalah reaksi kondensasi aldol silang, karena aldehid aromatik (
benzaldehid) tidak punya hidrogen alfa jadi harus direaksikan dengan keton
(aseton) yang punya hidrogen alfa. Hasil dari percobaan ini didapatkan rendemen
61,02 % dan melting pointnya sebesar 112-1180C.
IX. DAFTAR PUSTAKA
Fessenden & Fessenden, 1986, OrganicChemistryThirdEdition, Wadsworth, Inc : California
Sastrawijaya.1985.
Buku Materi Pokok Fisika. Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan : Jakarta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar