Pages

Senin, 28 November 2016

kromatografi lapis tipis



MAKALAH KROMATOGRAFI
ANALISIS ASAM AMINO DENGAN KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS ( KLT )


UMS-Surakarta.png


Disusun oleh:

Nama         : LAMTANA EKA KARTIKASARI
NIM            : K100130173
KELAS        : A

Fakultas Farmasi
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2014
PENDAHULUAN

Kromatografi lapis tipis adalah metode kromatografi cair yang paling sederhana yaitu suatu pemisahan senyawa yang amat berbeda seperti senyawa orgnik alam dan senyawa organic sintetik, kompleks anorganik-organik , dan bahkan ion anorganik dapat dilakukan dlam beberapa menit dengan alat yang harganya tidak terlalu mahal. Jumlah cuplikan serendah beberapa microgram atau setinggi 5 g dapat ditangani, bergantung pada alat yang ada dan gejala kromatografi yang terlibat. Kelebihan KLT yang lan ialah pemakaian pelarut dan cupilkan yang jumlahnya sedikit, kemungkinan penotolan cuplikan berganda (saling membandingkan langsung cuplikan praktis, dan tersedianya bebagai metode (seperti KCP, KCC, dan kromatografi eksklusi).
KLT dapat dipakai dengan dua tujuan yaitu yang pertama ,diapaki selayaknya sebagai metode untuk mencapai hasil kualiatif, kuantitatif atau preparative. Kedua dipakai untuk menjajaki system pelarut dan system penyangga yang akan dipakai dalam kromatografi cair kinerja tinggi.
                                                            (Gritter Roy, 1991)

Gambaran utama yang mengatur kemampuan daya pisah lempeng KLT adalah ukuran bercak (spot) dan dimensi fisik lempeng , dengan diameter sebesar 0,5 cm dan panjang lempeng pada umumnya 10 cm. dengan ukuran seperti ini, lempeng hanya mampu memisahkan 20 analit secara optimal supaya terpisah secara sempurna. Meskipun demikian , dengan penghantaran kapiler normal eluat, maka lempeng teoritis maksimum adalah <5000. Kecepatan fase gerak bervariasi disepanajang lempeng KLT, semakin jauh fase gerak melewati lempeng maka kecepatan akan menurun.
Dalam KLT dan juga kromatografi kertas, hasil-hasil yang diperoleh digambarkan dengan mencantumkan nilai Rf-nya yang merujuk pada migrasi relative analait terhadap ujung depan fase gerak atau eluen, dan nilai ini terkait dengan koefisien distribusi komponen.

                        (Ibnu Ghalib  dan Gandjar, 2012)

METHOD
            Disiapkan 2 chamber yang bisa mengakomodasi lembaran 20 cm2. Kita menggunakan KLT shandon chamber untuk memastikan penjenuhan dari lapisan chamber tank itudengan pelarut, dua dinding dari tiap chamber diberi garis internal dengan menandai pada kertas, dan ca. 100 mL dari pelarut dimasukkan dalam chamber sebelum proses elusi. Selulosa yang ditutupi lapisan alumunium (20x20 cm) ditandai dengan tujuh titik 1,5 cm dari dua sisi kertas. Dan digaris sejajar 15,5 cm dari sisi tersebut. Disiapkan dinding sel yang telah terhidrolisis. Sel tersebut di saring dengan trichloro acetic-acid-trypsin suhu tinggi. Tiap dua dimensional analisis memerlukan 2 – 4 µL hydrolysate, dan ukuran totolan sampel harus minimal. Pada bidang kertas, ditandai 4,5 dari lebarnya, digunakan untuk 1 dimensi elusi dari smpel asam amino pada tiap solvent. Solvent untuk 1 dimensi adalah isopropil : asam asetat : air (75 : 10 : 15). Kromatogram dikeringkan satu malam pada suhu ruangan atau di oven pada suhu 105oC tidak lama. Solvent kedua adalah methanol : lpyridine : 10N hydrochloricacid : water (64:8:2:14) smpai mencapai tanda 15,5 cm. Jika elusi pada cromatogram sudah selesai, dikeringkan dan divisualisasi dengan 0,2 % ninhidrin dalam aseton dengan menyemprotkannya dan memanaskannya pada suhu 105oC.
                                                                               (J. J. HARPER AND G. H. G. DAVIS , 1979)
PEMBAHASAN
            Pemisahan yang berdasaran partisi cair-cair dari komponen diantara dua fase yang tidak bisa bercampur. Dalam kromatografi kertas , serat hidrat selulosa dari kertas digunakan sebagai fase diam. Dalam kromatografi lapis tipis, lapisan tipis silika gel sebagai fase diam. KLT menggantikan kromatografi kertas karena plat silika lebih mudah digunakan daripada kertas, dan pemisahannya lebih tajam. Setelah proses elusi selesai, plat silika dikeringkan dan disemprot dengan larutan ninhidrin dan dihangatkan supaya diketahui letak asam amino pada plat tersebut. Ninhidrin bereaksi dengan asam amino untuk membentuk kompleks warna, sehingga asam amino dpat dideteksi pemisahannya.       
            Ekstrak dinding sel hasil hidrolisis tersusun atas sedikit membran dan komponen lain. Sensitivitas dari kromatografi lapis tipis adalah lebih besar daripada kromatografi kertas yang sedikit terdeteksi. Dalam bakteri gram positif dinding selnya asam amino lebih dari tiga atau empat, sehingga bercaknya lebih tebal dan besar.perbedaan metode yang digunakan dalam kromatografi lapis tipis ini akan memberikan hasil yang berbeda pula dalam pemisahannya.
                                                                                                                                (J. J. HARPER AND G. H. G. DAVIS , 1979)
           
                Nilai Rf dipengaruhi kuat oleh kondisi eksperimen, misalnya komposisi eluent, kelembaban kertas, dan juga suhu.

            Fase gerak akan naik keatas dengan gaya kapiler ketika plat dimasukkan dalam eluent pada chamber kromatografi. Ketika eluent menggerak an komponen dari sampel, maka sampel tersebut akan terpisah komponen-komponennya yang disebabkan interaksi anatara molekul dengan eluent.
            Campuran dari asam amino dapat dipisahkan dengan kromatografi kertas. Pemisahan asam amino divisualisasikan dengan larutan ninhidrin. Warna ungu akan berkembang selama reaksi antara asam amino dengan ninhidrin. Untuk pemisahan substansi secara visual (jika tidak berwarna) menggunakan teknik yang berbeda : rekasi kimia, menambahkan indikator flourescence ke lapisan absorbent selama proses penyiapan plat atau menyemprotkan larutan flourescence ke plat tersebut atau dilihat dibawah sinar UV.                                                                                                                                                                                         http://tera.chem.ut.ee/~koit/arstpr/ah_en.pdf

            Asam amino tidak bisa dilihat dengan mata biasa ketika diaplikasikan dengan KLT. Oleh karena itu setelah proses elusi dengan plat KLT dibutuhkan sistem untuk mendeteksi asam amino. Misalnya reagent ninhidrin digunakan untuk deteksi dan untuk mengukur asam amino dan peptida. Ninhidrin akan mengoksidasi agen sangat kuat yaitu mengoksidasi asam amino meghasilkan amonia, CO2, aldehid yang sesuai, dan bentuk reduksi dari ninhidrin yang disebut hydrinatin.                                                        
                                                                                                                 (Lehninger, Nelson, and Cox, 1993)

            Selain dengan reagent ninhidrin dapat juga dengan disemprotkan reagent 6-pyridin-2-yl-5,6 dihydro-benzo [4,5] imidazo [1,2-c] quinazoline (PDBIQ). Analisis struktural oleh spektroskopi dan sinar X. Rancangan quinazoline didasarkan penyemprotan reagen PDBIQ pada kromatografi lapis tipis dapat dibedakan warnanya tiap asam amino.                                                                                  
                                                                                                                http://dx.doi.org/10.4236/ajac.2012.39088

KESIMPULAN
            Analisis asam amino dengan kromatografi lapis tipis tidak bisa dilihat langsung dengan mata biasa, sehingga untuk melihat hasil elusinya maka ditambahkan reagent ninhidrin supaya membentuk warna ungu sehingga asam amino dapat terdeteksi.

DAFTAR PUSTAKA
Gandjar, Ibnu Gholib, abdul rohman, Analisis Obat secara Spektrofotometri           dan Kromatografi, Pustaka Pelajar : Yogyakarta
            J. J. HARPER AND G. H. G. DAVIS, 1979 Department of Microbiology,                                     University of Queensland, St. Lucia,        Brisbane, Australia                                         INTERNATIONAL JOURNAL OF SYSTEMATIC                                               BACTERIOLOGY, p. 56-58VOL.29 NO. 1
            Lehninger, Nelson, and Cox, 1993, Principles of Biochemistry, 2nd                                                 ed.
Roy, J Gritter, 1991, Pengantar Kromatografi edisi kedua, ITB : Bandung
            Stryer; 1995, Biochemistry, 4th ed                        
            http://tera.chem.ut.ee/~koit/arstpr/ah_en.pdf                 
                http://dx.doi.org/10.4236/ajac.2012.39088


Tidak ada komentar:

Posting Komentar